HMJ Dharmaduta – Menjadi mahasiswa bukan sekadar soal hadir di kelas dan mengerjakan tugas. Ada tekanan yang tidak selalu terlihat: deadline yang menumpuk, ekspektasi orang tua, persaingan akademik, hingga rasa takut gagal yang terus menghantui. Tanpa disadari, beban-beban ini menggerogoti kesehatan mental mahasiswa — dan dampaknya tidak berhenti di sana. Prestasi akademik pun ikut terkena imbasnya.
Kesehatan mental mencakup kondisi emosional, psikologis, dan sosial seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mahasiswa termasuk kelompok yang sangat rentan mengalami gangguan mental health. Masa transisi dari remaja menuju dewasa, jauh dari keluarga, hingga tuntutan akademik yang meningkat drastis menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi ini.
Banyak mahasiswa yang merasa harus tampil baik-baik saja di depan orang lain, padahal di dalam diri mereka menyimpan kelelahan yang luar biasa. Kondisi ini dikenal dengan istilah high-functioning anxiety terlihat produktif dari luar, namun sebenarnya sedang berjuang keras di dalam.
Ada beberapa faktor yang paling sering memicu gangguan mental health pada mahasiswa:
- Tekanan akademik menjadi pemicu utama. Sistem perkuliahan yang padat, tugas kelompok yang tidak merata, dan ujian yang datang bersamaan membuat mahasiswa kewalahan dan mudah stres.
- Tekanan sosial dan media sosial juga berperan besar. Melihat teman yang tampak lebih sukses, lebih aktif berorganisasi, atau lebih bahagia di media sosial memunculkan perasaan tidak cukup baik — yang dalam psikologi disebut social comparison.
- Masalah finansial turut menjadi beban tersendiri, terutama bagi mahasiswa perantau yang harus mengatur keuangan sendiri di tengah biaya hidup yang tidak sedikit.
- Kurangnya sistem dukungan di lingkungan kampus juga menjadi masalah. Tidak semua mahasiswa memiliki akses ke layanan konseling atau merasa nyaman untuk mencari bantuan profesional.
Kesehatan mental dan prestasi akademik adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Ketika kondisi mental terganggu, kemampuan kognitif seperti konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir kritis ikut menurun. Mahasiswa yang mengalami stres berkepanjangan cenderung kesulitan menyerap materi perkuliahan. Mereka mudah lupa, sulit fokus saat belajar, dan sering kali menunda pengerjaan tugas bukan karena malas, melainkan karena merasa overwhelmed.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berujung pada penurunan IPK, seringnya absen kuliah, hingga keputusan untuk mengambil cuti atau bahkan berhenti kuliah. Sebuah riset dari American College Health Association menunjukkan bahwa lebih dari 60% mahasiswa merasa tingkat stres mereka berdampak negatif pada nilai akademik mereka.

Perubahan tidak harus besar untuk terasa berarti. Ada langkah-langkah nyata yang bisa diambil dari berbagai pihak:
- Dari sisi mahasiswa sendiri, penting untuk mengenali batas diri dan tidak memaksakan produktivitas ketika tubuh dan pikiran sudah memberi sinyal kelelahan. Membangun rutinitas tidur yang baik, berolahraga ringan, dan meluangkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan adalah investasi untuk kesehatan mental jangka panjang.
- Dari sisi kampus, dibutuhkan layanan konseling yang mudah diakses, tidak stigmatis, dan benar-benar terasa aman bagi mahasiswa. Program peer support atau komunitas kesehatan mental di tingkat jurusan juga bisa menjadi langkah awal yang efektif.
- Dari sisi lingkungan sekitar, peran teman dan keluarga sangat besar. Terkadang, yang dibutuhkan mahasiswa bukan solusi — melainkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Membicarakan kesehatan mental masih dianggap tabu oleh sebagian orang. Padahal, mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan. Prestasi akademik memang penting, tetapi tidak lebih penting dari kondisi mental yang sehat.
Mahasiswa yang sehat secara mental bukan berarti tidak pernah stres — melainkan mereka yang tahu bagaimana mengelola tekanan dan tidak ragu mencari bantuan ketika membutuhkannya. Karena pada akhirnya, nilai terbaik yang bisa kamu raih adalah kesehatan dirimu sendiri.

