HMJ Dharmaduta – Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja saat ini. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube tidak hanya menyediakan hiburan, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi mereka melalui iklan terselubung, tren viral, dan gaya hidup influencer.
Meskipun ada dampak positif seperti pengenalan produk inovatif dan edukasi keuangan dasar lewat konten review, video unboxing gadget, atau tutorial skincare yang membantu keputusan belanja lebih bijak, manfaat ini sering kalah oleh tekanan negatif yang lebih intens.

Pengaruh terbesar media sosial terhadap perilaku konsumtif remaja adalah Fear of Missing Out (FOMO), yang mendorong pembelian impulsif hingga 30-50% pada usia 13-19 tahun akibat iklan dan tren seperti “haul” fashion di TikTok. Visual Stories/Reels produk mewah, endorsement influencer, serta challenge giveaway memicu keinginan instan dan pengeluaran berlebih tanpa pertimbangan anggaran.
Faktor pendukung mencakup algoritma platform yang utamakan konten belanja, tekanan kelompok sebaya lewat like/share sebagai status sosial, dan kemudahan e-wallet seperti OVO atau GoPay untuk transaksi instan tanpa pikir panjang.

Solusi efektif untuk remaja dan orang tua adalah batasi screen time maksimal 2 jam per hari, ajarkan literasi digital via diskusi keluarga, terapkan aturan “think before buy” dengan pertanyaan “Apakah ini kebutuhan atau keinginan?”. Kampanye sekolah tentang konsumsi bijak juga terbukti efektif mengurangi perilaku impulsif melalui pendidikan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumtif remaja menuntut kesadaran kolektif dari individu, keluarga, dan lembaga pendidikan untuk membangun kebiasaan konsumsi yang bertanggung jawab. Dengan pendekatan preventif yang tepat, remaja dapat memanfaatkan media sosial secara positif tanpa terjebak dalam lingkaran pemborosan yang merugikan masa depan finansial mereka.

