HMJ Dharmaduta — Pernahkah kamu memperhatikan bahwa banyak isu sosial mulai dari ketidakadilan, bencana, hingga kasus kemanusiaan baru ramai dibicarakan setelah menjadi viral di media sosial? Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari dinamika psikologis dan sosial yang kompleks di era digital.
Salah satu konsep kunci untuk memahami fenomena ini adalah slacktivism, yaitu bentuk aktivisme yang hanya memerlukan usaha minimal seperti menekan tombol like, membagikan unggahan, atau mengganti foto profil tanpa disertai tindakan nyata di dunia fisik. Menurut Kristofferson dkk. (2014), slacktivism didefinisikan sebagai kesediaan untuk menampilkan dukungan simbolis yang relatif tanpa biaya bagi suatu cause sosial, dengan disertai kurangnya kesediaan untuk mencurahkan upaya signifikan demi menciptakan perubahan bermakna. Dalam konteks ini, banyak orang merasa sudah berkontribusi hanya dengan berpartisipasi secara digital, sehingga mengurangi motivasi mereka untuk melakukan aksi yang lebih substantif.
Fenomena lain yang menjelaskan mengapa kita baru peduli setelah sesuatu viral adalah bandwagon effect, yaitu kecenderungan individu untuk meniru tindakan atau pilihan orang lain hanya karena tindakan tersebut dianggap populer atau umum dilakukan. Di media sosial, algoritma platform seperti TikTok dan Instagram memperkuat efek ini dengan mendorong konten viral, menciptakan siklus umpan balik yang menghasilkan konsensus kolektif dan urgensi untuk ikut tren. Dengan kata lain, ketika sebuah isu mulai banyak dibicarakan, orang cenderung ikut peduli bukan karena empati mendalam, tetapi karena ingin merasa relevan secara sosial.
Beberapa faktor psikologis mendasari mengapa kepedulian sering kali muncul hanya setelah sesuatu menjadi viral, di antaranya kebutuhan akan validasi sosial di mana orang ingin dilihat sebagai individu yang peduli dan berempati di hadapan orang lain, mekanisme reward dopamin di otak ketika sebuah tren menerima banyak likes, shares, atau komentar positif yang memperkuat perilaku ikut-ikutan tersebut, efek emosi dan kemarahan karena konten yang memicu emosi kuat cenderung lebih cepat viral dan menarik perhatian massal, serta akuntabilitas yang lemah di dunia digital di mana orang merasa kurang bertanggung jawab secara pribadi karena tindakannya tidak langsung terlihat dampaknya.
Meskipun viralitas dapat meningkatkan kesadaran, ada beberapa konsekuensi negatif yang perlu diwaspadai, seperti kepedulian yang dangkal di mana banyak orang hanya peduli selama isu masih trending lalu melupakannya begitu cepat, ilusi pencapaian di mana orang merasa sudah berkontribusi hanya dengan klik like padahal tidak ada perubahan nyata yang terjadi, distraksi dari isu penting karena isu yang tidak viral tetapi sama pentingnya sering kali terabaikan, serta eksploitasi emosi di mana beberapa pihak memanfaatkan momentum viral untuk kepentingan pribadi atau politik, bukan untuk solusi jangka panjang.
Sebagai mahasiswa dan calon agen perubahan, penting bagi kita untuk mengembangkan kepedulian yang lebih autentik dan berkelanjutan dengan bersikap kritis terhadap tren, tidak hanya ikut-ikutan karena viral tetapi menanyakan apakah isu tersebut benar-benar penting dan apakah tindakan kita memberikan dampak nyata. Selain berbagi di media sosial, kita perlu mencari cara untuk terlibat langsung melalui donasi, menjadi relawan, atau advokasi kebijakan, serta mempelajari akar masalah dari isu sosial, bukan hanya permukaannya yang viral. Yang tak kalah penting adalah membangun empati berkelanjutan dengan mengembangkan kepedulian yang tidak bergantung pada tren, tetapi berasal dari nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.
Fenomena baru peduli setelah viral adalah cerminan dari dinamika psikologis dan sosial di era digital yang dipengaruhi oleh slacktivism, bandwagon effect, dan kebutuhan akan validasi sosial. Meskipun viralitas dapat meningkatkan kesadaran, kepedulian yang sesungguhnya memerlukan lebih dari sekadar klik karena ia menuntut komitmen, empati, dan aksi nyata. Sebagai generasi muda, kita memiliki tanggung jawab untuk mengubah pola kepedulian selektif ini menjadi gerakan sosial yang lebih autentik dan berkelanjutan.

