HMJ Dharmaduta – Batik Wonogiren, batik khas Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dikenal lewat motif retakan yang disebut remakan atau remukan. Kreasi para perajin Tirtomoyo ini berperan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. Namun, pada 1980–1990 usaha batik di Tirtomoyo pernah hampir punah.
Corak retakan muncul ketika lilin batik mengeras lalu retak, dan proses pembuatan batik melewati banyak tahap, mulai dari memberi lilin pada kain. Meski tampak “rusak”, ciri inilah yang membuat batik Wonogiren digemari. Motifnya beragam, di antaranya jambu mete, jamu gendong, kepik, burung hantu, dan burbo, sedangkan motif singkong dan bunga berkiblat pada batik keraton.

Kain batik khas Wonogiri bermotif bunga dan burung dengan efek retakan atau remekan. (Foto: Radar Solo/radarsolo.jawapos.com)
Pada masa sulit itu, hanya tersisa Usaha Batik Tari Sumarno atau TSP yang masih memproduksi batik dengan ciri remukan. Baru pada 2013 muncul usaha baru, seperti Kartika Batik, Batik Rifky, dan Marcuet Batik. Kini TSP Batik di Desa Tirtomoyo disebut sebagai salah satu produsen batik Wonogiren yang legendaris.

Kain batik tertata di rak showroom TSP Batik, Tirtomoyo, Wonogiri. (Foto: Google Maps/Pujihartanti)
Tirtomoyo dikenal sebagai sentra batik Wonogiren. Pada 2018, sebagian besar pengusaha di sana meneruskan usaha orang tua sejak puluhan tahun lalu, dan sekitar 25 pengusaha ikut pameran produk unggulan yang digelar Dekranasda Wonogiri. Beberapa perajin, termasuk TSP dan Rifky, juga menerapkan pewarna alami indigo agar lebih ramah lingkungan, meski harga jualnya lebih tinggi dibanding pewarna kimia. Ciri khasnya pun dinilai berpotensi menjadikan batik Wonogiren oleh-oleh khas dan daya tarik wisata Wonogiri.
Secara sejarah, batik Wonogiren berkaitan dengan masuknya kerajinan batik budaya Mataram dari Surakarta ke Tirtomoyo, dan pembatik Keraton Mangkunegaran yang berusaha di Wonogiri menjadi awal tumbuhnya pengusaha di sana. Batik ini digemari pada masa KGPAA Mangkunagara VII–VIII, dan konon dipopulerkan oleh Ibu Tien Soeharto.

